Sudah sering terjadi, lele varietas unggul yang beredar di masyarakat keunggulannya menurun secara cepat. Salah satu penyebab dari masalah tersebut, yakni banyak pembudidaya yang mencoba menghasilkan induk dengan memproduksinya sendiri tanpa didasari pengetahuan genetik yang benar. Lantas, bagaumana cara mudahnya menjaga keunggulan lele mutiara?
Berikut ini akan dipaparkan secara singkat hal-hal yang perlu diperhatikan agar keunggulan lele varietas mutiara dapat tetap terjaga.
Maksudnya, yaitu jumlah induk-induk yang berkontribusi dalam suatu pemijahan, bukan jumlah induk yang digunakan dalam pemijahan. Jumlah induk pijah ini ada kaitannya dengan besarnya “laju in breeding“.
Umumnya, laju in breeding yang diharapkan dalam satu generasi agar kualitas genetik tetap terjaga adalah sebesar 0,5%. Artinya, jumlah induk yang dibutuhkan sebanyak 100 ekor dengan proporsi jantan dan betina 50 : 50.
Seleksi berbasis produksi dilakukan untuk menyiasati kegiatan produksi tidak terganggu selama dilakukan program seleksi. Sebelumnya, perlu diperhitungkan terlebih dahulu kapasitas produksi yang dimiliki.
Sebagai contoh, jika fasilitas yang ada di pembenih mampu menampung hasil pemijahan dari lima pasang induk lele mutiara dalam satu kali pemijahan, artinya calon indukan yang diharapkan dari setiap kali pemijahan adalah sebesar 10% dari setiap kali pemijahan.
Tentunya jumlah benih yang dijadikan populasi bahan calon induk mempertimbangkan besarnya sitasan pada setiap tahapan, baik masa pendederan (satu bulan) serta masa pembesaran (dua tahun).
Monitoring atau tindak pengawasan merupakan langkah berikutnya yang dapat dilakukan untuk menjaga kualitas genetik induk. Tindakan ini dilakuka dengan cara membandingkan fenotipe unggul dari varietas yang ada.
Pada lele mutiara, parameter tersebut antara lain keseragaman ukuran, pertumbuhan yang cepat, dan efisiensi pada pakan yang dapat dilakukan dengan membuat model pembesaran dalam kolam ukuran kecil, misalnya bervolume 1—2 m3.
Monitoring dapat juga dilakukan dengan tindakan observasi atau mencari informasi tentang hasil benih yang sudah dijual kepada pembudidaya saat panen. Langkah ini memerlukan banyak upaya karena pembudidaya jarang melakukan pencatatan sehingga data atau informasi yang diberikan berupa perkiraan saja.