(0362) 21440
dkpp@bulelengkab.go.id
Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan

Teknologi Biorock

Admin dkpp | 17 Maret 2016 | 3349 kali

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia memiliki sumberdaya alam hayati laut yang potensial seperti sumberdaya terumbu karang. Sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki hamparan terumbu karang dengan kuantitas yang cukup besar. Dimana berdasarkan hasil penelitian pada tahun 1998, luas terumbu karang Indonesia adalah 42.000 km2 atau 16,5 % dari luasan terumbu karang dunia yaitu seluas 255.300 km2 dengan 70 genera dan 450 spesies (Soediono, 2008).

Terumbu karang adalah elemen laut penting yang tidak hanya berguna bagi biota laut tapi juga manusia. Letak ekosistem terumbu karang yang berdekatan dengan garis pantai membuat ekosistem ini mengalami tekanan yang cukup berat dari masyarakat pesisir setempat. Menurunnya populasi terumbu karang akibat ulah manusia telah menyadarkan kita betapa pentingnya melakukan upaya pemulihan terhadap penghuni dasar laut ini, salah satunya dengan teknologi Biorock.

Teknologi Biorock merupakan metode pemulihan terumbu karang melalui proses penambahan mineral, yang dikenal sebagai Seacrete (Sea Concrete) atau Seament (Sea Cemen) merupakan zat-zat yang terbentuk melalui proses elektroakumulasi dari mineral yang terlarut di dalam air laut. Metoda  ini didasarkan pada Mineral Accretion Process (MAT) atau Proses Pertumbuhan Mineral, yang dikembangkan pertama kali pada tahun 1974 oleh seorang arsitek dan ilmuwan kelautan asal Jerman, Wolf Hilbertz. Dengan mengalirkan arus listrik bertegangan rendah sekitar 1,2 volt pada kerangka baja yang telah dibentuk dan ditenggelamkan di dasar laut.

Sejak 1988 bekerja sama dengan Dr. Tom Goreau mencoba mengembangkannya di seluruh dunia. Teknologi ini memanfaatkan proses elektrolisis dengan adanya anoda dan katoda sehingga menyebabkan mineral terlarut dalam air laut membentuk endapan padatan mineral yang menempel pada sturktur kerangka. Dengan menggunakan metode ini pertumbuhan karang terbukti 6 kali lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan alami.

Saat ini ada lebih dari 20 proyek biorock di seluruh dunia, namun yang terbesar dan paling inovatif, ada di Indonesia. Indonesia sendiri telah melakukan upaya rehabilitasi terumbu karang dengan teknologi ini sejak tahun 2000, yaitu di daerah Pemuteran Bali. Bali dipilih sebagai lokasi Biorock karena menjadi bagian dari Segitiga Terumbu Karang dunia yang kaya biota laut sementara sisi utara Bali yaitu kawasan Buleleng memiliki garis pantai terpanjang di Bali yang membentang dari timur ke barat. Selain itu, Desa Pemuteran merupakan salah satu desa pesisir yang potensial di Buleleng.

Kegiatan ini dipelopori oleh “Karang Lestari Pemuteran” bekerjasama dengan dive shop, pengelola hotel, restoran, para nelayan dan para ilmuan yang memilki kepedulian tinggi terhadap kelestarian terumbu karang. Struktur Biorock yang dipasang di Pemuteran berjumlah 22 struktur dengan bentuk yang sama seperti struktur yang ada di pulau Kwadule, Kuna Yala, Panama. Struktur ini ditempatkan pada kedalaman 120 kaki. 

Biorock di Pemuteran Bali telah 5 kali meraih penghargaan baik lokal maupun internasional. Kunci keberhasilan Biorock di Pemuteran Bali tak diragukan lagi ialah karena keterlibatan dari berbagai pihak terutama masyarakat sekitar, kelompok nelayan dan Pecalang laut (polisi desa adat). Saat ini sebagian dasar pantai di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten  Buleleng, Bali kini mnjadi "surga" buatan. Terumbu karang hasil transplantasi dengan metode Biorock telah menghiasi dunia bawah pantai Pemuteran.

Pengembangan teknologi biorock di daerah ini juga menggunakan pola adopsi, dengan pola tersebut maka setiap wisatawan yang berkunjung ataupun masyarakat lain dapat menyumbangkan Rp 400 ribu untuk pengembangan satu buah terumbu karang dan nantinya nama mereka disematkan pada karang tersebut.

Download disini