(0362) 21440
dkpp@bulelengkab.go.id
Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan

GARAM BENTUK PIRAMIDA ASAL BULELENG POPULER DI JEPANG

Admin dkpp | 31 Juli 2013 | 2221 kali

Setelah lumayan populer di supermarket, dan toko yang menjual makanan Jepang, baik di Jakarta, maupun Bali, garam alami kualitas premium "Laut Bali" kini juga kian populer di pasar Jepang. "Tahun 2010, kami sudah mengekspor 700 kilogram garam Laut Bali, termasuk Super Tejakula, dan Pyramidion, garam berbentuk piramida yang lebih mahal, ke Jepang, atau naik dua kali lipat di banding tahun 2009," ujar Kadek Widnyana (34 tahun), manajer PT Neo Logis Surabaya, yang memproduksi garam dengan merek dagang "Laut Bali." Sejak tahun 2005, Neo Logis memproduksi garam premium di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, yang berlokasi di bagian utara Propinsi Bali.

Menurut Widnyana, "Laut Bali" tahun ini berencana meningkatkan produksinya dua kali lipat, guna memenuhi tingginya permintaan garam alami dari Jepang. "Saat ini, kami berjuang untuk memenuhi pesanan dari jaringan restoran di Jepang, guna memasok ke-40 outletnya yang ada disana," ujar Widnyana. Garam Laut Bali diproduksi oleh warga yang tinggal di garis pantai di kecamatan Tejakula, dengan mengolah air laut yang belum tercemar menggunakan metode tradisional, seperti memakai peralatan alami dan menghindari bahan plastik, serta karet. Metode seperti itu, membuat mutu, dan rasa garam menjadi lebih baik dibanding garam produksi daerah lain di Bali.

Pada awalnya, air laut dialirkan untuk disaring melalui wadah berbentuk kerucut terbuat dari bambu, berisi pasir dari daerah setempat, tanah, dan air murni kaya mineral dari sungai, yang mata airnya berada di daerah pegunungan Buleleng.

Proses penyaringan membutuhkan waktu satu sampai dua hari, sampai air laut yang sudah disaring kemudian menetes ke dalam wadah terbuat dari batang pohon kelapa. Selanjutnya, air dipindahkan ke pelepah batang pohon kelapa, untuk dikeringkan selama satu sampai dua hari, tergantung kondisi cuaca.

"Semua proses pengolahan tadi membuat garam yang diproduksi di Tejakula menjadi penuh dengan mineral, dan rasanya berbeda, yang sedikit kurang asin dibanding garam lainnya"

Selanjutnya, Widnyana membeli garam yang sudah diolah warga setempat, namun masih harus melalui proses pengeringan tambahan dalam rumah kaca khusus dengan suhu mencapai 55 derajat selsius, khususnya bila hari sangat terik.

Namun proses pengeringan akhir masih sangat tergantung cuaca, sehingga bisa memakan waktu satu sampai dua hari, dan pada saat bersamaan proses secara alami juga akan menghasilkan berbagai jenis garam, termasuk Snow, Crystal, Dice, dan Pyramidion, yang merupakan produk unggulan Laut Bali.

"Kami sudah melakukan percobaan dengan sejumlah pembuat garam di daerah pantai lain di Bali, namun semuanya gagal memproduksi yang berbentuk piramida," ungkap Widnyana.

Menurut Widnyana, setelah melalui proses pengeringan akhir, 600 kilogram garam mentah Tejakula, hanya bisa menghasilkan 5 kilogram garam berbentuk piramida, sementara sisanya menjadi garam jenis lain.

Itu sebabnya, garam berbentuk piramida bila dijual bisa mencapai Rp 220,000 per kiloram, dan garam Tejakula jenis lainnya dijual dengan kisaran harga mulai dari Rp 60,000 sampai Rp 100,000 per kilogram, yang masih lebih mahal dibanding garam yang dijual di pasar setempat, dengan harga Rp 10,000 per kilogram. Garam berbentuk piramida dengan ukuran sedang dijual seharga Rp 5,000 per potong, dan untuk ukuran besar, yang panjangnya satu sampai satu setengah sentimeter, bisa dijual masing-masing seharga Rp 10,000.

"Restoran tertentu suka memakai garam yang berukuran besar, karena terlihat eksotik saat dihidangkan di meja makan," ujar Widnyana.

Menurut Widnyana, pemanasan global telah berdampak buruk bagi usahanya, karena frekuensi turunnya hujan semakin sering meski sudah memasuki musim kemarau, dengan rata-rata hari yang terik sebanyak 60 hari dalam setahun.

Ancaman lain bagi bisnis Widnyana yakni, pesatnya pertumbuhan jumlah villa, dan bungalow disepanjang garis pantai Tejakula, karena semakin banyak wisatawan mencari daerah yang lebih sunyi dibanding Kuta, Nusa Dua, Jimbaran, dan lainnya.

"Saya tidak tahu, apakah dalam 5 sampai 10 tahun kedepan, masih ada daerah khusus untuk membuat garam disini," ujar Widnyana, yang perusahaannya mempekerjakan delapan pegawai, dan bermitra dengan 26 pembuat garam, turun dari 35 pada tahun 2010.

Menurut Widnyana, takdir garam Tejakula sangat bergantung tidak hanya pada kebaikan alam, tapi juga perlindungan lingkungan, karena kegiatan ekonomi terkait industri wisata yang terus tumbuh di Buleleng bisa mencemari sungai, dan air laut.

"Saya senang membuat garam guna menyambung hidup, jadi tidak mau menjual tanah yang ada ditepi pantai untuk dirubah menjadi villa," ujar Ketut Sudana (50 tahun), saat mengeringkan air laut dimana nenek moyangnya telah mulai memproduksi garam sejak 500 tahun silam.

Sebagian daerah pantai yang digunakan untuk membuat garam, saat ini masih dipenuhi perahu kayu kecil milik nelayan setempat, dan juga pohon nyiur melambai, berlokasi tidak terlalu jauh dari situs diving yang belum banyak diketahui orang. (sumber: halojepang.com)